Langsung ke konten utama

Kak(?)

Aku menemukannya, dalam hiruk pikuk salah satu acara besar di kotaku. Ia duduk termenung di pojok ruangan mengenakan setelan kemeja biru muda dengan lengan terlipat dan jas almamater kampus kebanggaan di sampingnya. Dihisapnya sebuah batang rokok yang tinggal separuh dan membiarkan asapnya menari kesana kemari tepat di depan wajahnya. Wajahnya yang ideal dengan rahang yang tegas, hidung asli indonesia, bibir tebal, sedikit kantung mata hitam dan ditambah rambut yang kepirangan membuatnya terlihat semakin menarik. Tenang saja, ia pria yang baik, walau dengan penampilan premannya. Ia pun dikenal pribadi yang cukup menyenangkan dan sangat rapi. Kulit putih pucat dan badan jangkungnya sangat cocok bila dipadukan dengan motor sport kebanggannya, dan sepatu kulit mahal keluaran terbaru. Tak ayal jika banyak kaum hawa yang rela bertekuk lutut dihadapannya, tak terkecuali aku.
Dia masih orang yang sama. Orang yang kusuka saat aku masih duduk di bangku SMA. Dia lebih tua 2 tahun di atasku. Aku menemukannya kurang lebih 4 tahun lalu, tepatnya 1660 hari bila dihitung dengan hari ini. Anggap saja hari ini tanggal 23 Juni 2018. Aku mengenalnya dalam sebuah media sosial. Waktu itu adalah awal dari bulan terakhir di tahun 2013. Kami berteman dalam twitter. Berhasil mengenalnya adalah sebuah hasil dari keteledoranku saat itu.  Entahlah. Dia adalah orang yang berhasil mengambil hatiku pada akhir bulan keempat 2014.
Kini aku menemukannya kembali dengan penampilan serampangannya. Kukira rasaku padanya telah mati setelah bertahun-tahun lamanya. Seperti mencari sebuah kehangatan dalam rumah lain. Tak peduli berapa banyak pintu yang kuketuk atau seberapa sering pintuku terketuk. Tak peduli berapa banyak teman pria yang kusuka, atau berapa banyak pria yang telah kukencani. Namun, nyatanya selama ini aku salah. Rasa ini selalu ada, terus ada dan akan selalu ada di setiap harinya. Bila di luar sana ada matahari yang menarik semua planet tuk berputar mengelilinginya, aku pun punya hal yang sama. Dia. Dia yang selalu menjadi kutub dalam hidupku. Tak peduli seberapa jauh kaki ini berlari meninggalkan dirinya dan setumpuk rindu untuknya, aku tetap kembali untuk menaruh rasa, dan sedikit asa dalam dirinya.
Kak? Kau tahu?
Mencintai diam-diam dan jatuh cinta sendirian itu menyakitkan.

Komentar

  1. Dalam diam kita mencintai, dalam doa dipanjatkan.. .
    Ean entah antrian ke berapa untuk doamu untuk siap di ijabah oleh sang khalik
    Merana, gelisah, gundah akan trus dirasa
    Tetapi jangan pernah menyerah dan selalu bangkit di setiap masalah yang dihadapi
    Dan tetaplah bersabar atas doa yg tlah kau panjatkan, agar kayuhan do'a menuju singgasana-Nya cepat diterima.

    BalasHapus

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak, kawan.

Postingan populer dari blog ini

Dengan Ia yang Pernah Hadir dan Menjadi Bagian dari Hidupku

Terkekang sekian lama dan dihantui rasa bersalah setiap hari mungkin adalah mimpi buruk bagi sebagian orang. Perasaan takut untuk berekspresi dan unjuk diri selalu membelenggu. Dengan ia yang pernah hadir dan menjadi bagian dari hidupku. Bagaimana rasanya jika hari-harimu selalu dipenuhi awan kelabu? Bagaimana jika hari-harimu selalu diguyur hujan badai? Dengan ia yang pernah hadir dan menjadi bagian dari hidupmu. Bagaimana perasaanmu menjadi pihak yang melulu disalahkan, disudutkan, dan tak pernah didengar suaranya? Bila marahpun kau tak pernah mampu. Bila memberontakpun kau akan selalu kalah. Bagaimana perasaanmu jika hidupmu selalu dibatasi, bahkan untuk bernapas saja kau harus pakai aturan darinya. Dipaksa untuk mengerti dia yang bahkan selalu bungkam akan apapun. Dipaksa tau semua hal yang tak pernah ia bagi tau kepadamu. Mengerti perasaannya saat perasaanmu sendiri tak pernah kau jamah. Bagaimana perasaanmu jika kau harus mendengar umpatan darinya? Mungkin ini terdengar sepel...