Langsung ke konten utama

Dengan Ia yang Pernah Hadir dan Menjadi Bagian dari Hidupku

Terkekang sekian lama dan dihantui rasa bersalah setiap hari mungkin adalah mimpi buruk bagi sebagian orang. Perasaan takut untuk berekspresi dan unjuk diri selalu membelenggu. Dengan ia yang pernah hadir dan menjadi bagian dari hidupku.
Bagaimana rasanya jika hari-harimu selalu dipenuhi awan kelabu? Bagaimana jika hari-harimu selalu diguyur hujan badai? Dengan ia yang pernah hadir dan menjadi bagian dari hidupmu.
Bagaimana perasaanmu menjadi pihak yang melulu disalahkan, disudutkan, dan tak pernah didengar suaranya? Bila marahpun kau tak pernah mampu. Bila memberontakpun kau akan selalu kalah.
Bagaimana perasaanmu jika hidupmu selalu dibatasi, bahkan untuk bernapas saja kau harus pakai aturan darinya. Dipaksa untuk mengerti dia yang bahkan selalu bungkam akan apapun. Dipaksa tau semua hal yang tak pernah ia bagi tau kepadamu. Mengerti perasaannya saat perasaanmu sendiri tak pernah kau jamah.
Bagaimana perasaanmu jika kau harus mendengar umpatan darinya? Mungkin ini terdengar sepele, tapi bagaimana jika setiap hari kau harus mendengarnya mengumpat? It's terrible, isn't it?

Mungkin bukan sekali dua kali pertengkaran yang terjadi. Namun kata-kata kasarnya juga sudah menjadi makan favoritku setiap hari. Caci makinya adalah hal yang wajar untuk mengisi kelabunya hari hariku. Dan memblokir nomorku adalah kebiasaan baru baginya.
Bukannya aku tak bisa marah dengan semua sikap kekanak-kanakannya, cemburuannya, sikap posesifnya, dan semua kata-kata kotornya. Hanya saja, aku tak ingin menjadi orang sepertinya. Tak akan pernah ada gunanya menjadi orang sepertinya.

Sekarang, mungkin aku bosan dengannya. Aku bosan dengan semua tuduhan bodohnya. Aku bosan dengan ia yang selalu berburuk sangka. Aku benci dengan ia yang menyebutku “gampangan” saat ia marah. Aku mengutuk telapak tangannya yang sering mendarat kasar di pipiku. Aku muak diperlakukan seperti binatang. Dan akhirnya, lelahku menemukan titik temunya.
Aku diam, bukan berarti tak peduli. Aku diam, bukan berarti aku tak rasa. Hanya saja aku malas berdebat bodoh dengannya. Beradu argumen dengannya. Membalas kata-kata kotornya.

Ribuan maafnya sudah kuterima dengan baik. Lagi dan lagi. Jangan ada kata maaf lagi, aku tak sudi. Ribuan kali ia kembali, aku terima dengan baik. Lagi dan lagi. Namun sekarang jangan pernah kembali lagi, sudah terlalu sesak disini.
Aku tak mencap diriku yang paling benar disini. Aku tak mencap sebagai orang yang melulu benar dalam keadaan ini. Terkadang aku pun salah, sama seperti dia. Namun jahatnya, dia selalu bungkam dan memintaku untuk menerka sendiri dimana letak kesalahanku. 
Aku tak tau, entah dia yang bisu atau aku yang terlalu tuli. 
Mungkin berbeda itu baik, namun bukan seperti ini yang aku mau. Dimana kata benar selalu saja diagungkan dalam presepsi masing-masing, dalam jalan pikir masing-masing, sampai pada akhirnya kebenaran hanyalah apa yang ada dalam ego masing-masing.
Aku tidak pernah mempermasalahkan kenyataan bahwa perbedaan ini memang ada, namun yang kupermasalahkan adalah ia yang selalu kolot dan menarik kesimpulan dari sisinya sendiri. Untuk kamu, cobalah untuk berhenti menjadi idiot yang mengagungkan kebenaran dalam egomu sendiri. Sesekali dengarkan aku juga. Aku yang bodoh ini juga ingin  didengar.

Aku tahu, hidupnya tak melulu tentangku. Dan iapun tahu, hidupku tak melulu tentangnya. Yang penting diatur saja takarannya. Karena kopi pahitpun akan jadi nikmat bila takarannya pas.
Tak apa, setiap orang punya kecewanya masing-masing, punya sakitnya masing-masing, dan punya sedihnya masing-masing. Kecewa, sakit, sedih punya peranannya sendiri dalam hidup. Bukan untuk melemahkan, tapi menguatkan.

Mungkin memang benar. setiap orang butuh waktu, butuh jarak, butuh ruang tuk sendiri. Bukan untuk menjauh, apalagi untuk menghilang. Hanya saja yang dibutuhkan saat ini adalah bagaimana cara sembuhkan luka, mendinginkan kepala, mematahkan ego, dan mengerti atas pribadi yang lain.
Mari menjadi dewasa. Hadapi masalah bukan dengan cara masing-masing, bukan dengan emosi masing-masing, bukan dengan otak masing-masing, atau dengan ego masing-masing. Tapi, mari kita redakan emosi, satukan pikiran, dinginkan otak, lembutkan hati, leburkan ego demi satu hal yang dapat meringankan rasa sakit walau tak seberapa.

Untuk kamu, aku tahu genggamanmu kini tak lagi nyaman, am i right? Lepaskan saja, jangan dipererat. Untuk apa memaksakan saling menggenggam, bila pada akhirnya melepaskan memang jalan terbaik. Kemarilah, tidurlah dipangkuanku sejenak. Aku tahu kamu lelah. Jangan egois untuk terlihat kuat. Because i know you’re not, and i’m sure you do. Menangislah, tak apa. Hidup bukan hanya perihal bahagia dan tertawa.
Kini aku tahu, dia tahu, dan hati ini juga tahu kalau aku dan dia terlalu memaksakan ketidakmungkinan agar menjadi mungkin. Namun tak masalah, baik aku ataupun dia juga tahu bahwa ini memang yang terbaik.
Untuk kamu, satu pesanku. Aku tak kan pernah bisa kembali. Bukan berarti aku tak ingin, bukan berarti aku tak mau. Hanya saja aku lelah menggenggam sesuatu yang memilukan.
Pergilah. Aku ikhlas.
Terimakasih sudah pernah mengerti. Terimakasih sudah pernah menemani. Terimakasih sudah pernah menjadi penyemangat. Terimakasih sudah mampu menjadi teman suka dan duka. Terimakasih sudah pernah meluangkan waktu untuk berjuang bersama. Terimakasih sudah menerima kekuranganku. Terimakasih untuk maaf yang kau beri atas kesalahan yang sering aku lakukan. Terimakasih sudah pernah menjadi alasan untuk tersenyum, menangis, dan bahagia. Terimakasih karena pernah menjadi orang yang selalu ada. Terimakasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku.
Terimakasih untuk segala yang kamu berikan. Materi atau usaha, aku menghargainya.
Untuk kamu, ingatlah namaku, sapalah aku kala jumpa.

Dari aku yang pernah hadir dan menjadi bagian dari hidupmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kak(?)

Aku menemukannya, dalam hiruk pikuk salah satu acara besar di kotaku. Ia duduk termenung di pojok ruangan mengenakan setelan kemeja biru muda dengan lengan terlipat dan jas almamater kampus kebanggaan di sampingnya. Dihisapnya sebuah batang rokok yang tinggal separuh dan membiarkan asapnya menari kesana kemari tepat di depan wajahnya. Wajahnya yang ideal dengan rahang yang tegas, hidung asli indonesia, bibir tebal, sedikit kantung mata hitam dan ditambah rambut yang kepirangan membuatnya terlihat semakin menarik. Tenang saja, ia pria yang baik, walau dengan penampilan premannya. Ia pun dikenal pribadi yang cukup menyenangkan dan sangat rapi. Kulit putih pucat dan badan jangkungnya sangat cocok bila dipadukan dengan motor sport kebanggannya, dan sepatu kulit mahal keluaran terbaru. Tak ayal jika banyak kaum hawa yang rela bertekuk lutut dihadapannya, tak terkecuali aku. Dia masih orang yang sama. Orang yang kusuka saat aku masih duduk di bangku SMA. Dia lebih tua 2 tahun di atasku. Aku...