Aku menemukannya, dalam hiruk pikuk salah satu acara besar di kotaku. Ia duduk termenung di pojok ruangan mengenakan setelan kemeja biru muda dengan lengan terlipat dan jas almamater kampus kebanggaan di sampingnya. Dihisapnya sebuah batang rokok yang tinggal separuh dan membiarkan asapnya menari kesana kemari tepat di depan wajahnya. Wajahnya yang ideal dengan rahang yang tegas, hidung asli indonesia, bibir tebal, sedikit kantung mata hitam dan ditambah rambut yang kepirangan membuatnya terlihat semakin menarik. Tenang saja, ia pria yang baik, walau dengan penampilan premannya. Ia pun dikenal pribadi yang cukup menyenangkan dan sangat rapi. Kulit putih pucat dan badan jangkungnya sangat cocok bila dipadukan dengan motor sport kebanggannya, dan sepatu kulit mahal keluaran terbaru. Tak ayal jika banyak kaum hawa yang rela bertekuk lutut dihadapannya, tak terkecuali aku. Dia masih orang yang sama. Orang yang kusuka saat aku masih duduk di bangku SMA. Dia lebih tua 2 tahun di atasku. Aku...
Tidak semua yg aku tulis adalah kamu, dan tidak semua yang kamu baca adalah aku. I write, because no one listens